adakah cara selain mati untuk kembali menjadi tiada?

kepala dan dada. keduanya seperti tempat segalanya bertumpu. dadaku seumpama bumi yang mengalami segala yang terjadi pada semesta. sementara kepalaku seumpama semesta mahaluas tak berbatas tempat segala bergantungan melayang-layang -lalu bintang-bintang adalah sekawanan pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ada habisnya. planet-planet adalah masing-masing kenangan yang berlainan. dan planet kenangan yang paling terang sejagat raya: venus, itu… Read More adakah cara selain mati untuk kembali menjadi tiada?

seperti gigi yang enggan pergi dari gusi

bertandang ke rumah abang, bermain dengan putrinya umur enam, beberapa giginya tanggal. tapi tidak parah seperti kakak tua yang giginya dua tinggal satu gigi depannya yang paling bawah bergoyang goyang seketika aku teringat pada diriku. seumpama gigi yang sudah goyang tapi tetap tinggal meski tahu diri cepat atau lambat akan tetap tanggal sungguh, betapa luasnya… Read More seperti gigi yang enggan pergi dari gusi

menggenggam cahaya adalah pekerjaan sia-sia

“lelakiku datang dengan tangan terbuka! ia merangkul bertumpuk-tumpuk rindu pada mata. beningnya mengalahkan telaga dengan riak-riak sederhana” – theoresia rumthe kali pertama tangan kau dan tangan aku bertemu, satu sama lain menggenggam erat, masih lekat aku ingat ada hangat merambat bagai ungkapan selamat datang bagi hati hati yang sukarela menampung segala. bagai letupan kembang api,… Read More menggenggam cahaya adalah pekerjaan sia-sia

whatever happens, don’t let go of my hand

beberapa hari belakangan saya kesulitan menulis, mentok, mati. tapi tetiba hari ini seperti ada yang ingin meluap lagi. seperti ada yang menggedor-gedor batin saya minta dibukakan pintu. seperti ada yang ingin keluar tapi sebegitu sulitnya menerobos. seperti ada…apalah, entahlah. yang jelas hari ini saya merasa saya harus menuliskan ini. semacam ucapan terima kasih yang teramat… Read More whatever happens, don’t let go of my hand